Format Partisi di Linux
0 komentar Published by Eko Budi Prasetyo on Jumat, 27 November 2009 di 14:17Karena sudah terbiasa meformat hard disk menggunakan aplikasi GUI di Ubuntu, jadinya nggak pernah ngutak-ngatik gimana caranya memformat menggunakan shell. Dalam kasus kali ini, aku ingin memformat hard disk dengan menggunakan file system ext4 dan memasangnya di PC yang menggunakan Ubuntu Server yang nggak ada Desktop nya alias versi text. Setelah melakukan pencarian di Google (ternyata banyak artikel yang aku temukan tidak berkaitan dengan apa yang aku cari), akhirnya aku menemukan artikel yang cukup relevan. Ternyata hanya diperlukan dua perintah saja: fdisk, dan mkfs.ext4.
Berikut langkah-langkahnya:
- Membuat partisi baru dengan fdisk Dalam kasus ini, hard disk yang aku pasang dikenali sebagai /dev/sdb, dan aku hanya ingin membuat satu partisi saja. Perintahnya adalah sebagai berikut (pastikan menjalankan fdisk dalam priveledge root):
- Format partisi yang sudah dibuat dengan menggunakan perintah mkfs.ext4 (untuk file system ext3 atau ext2 bisa menggunakan perintah mkfs.ext3 dan mkfs.ext2) Partisi yang sudah dibuat sebelumnya, dalam contoh ini dikenali sebagai /dev/sdb1.
- Melakukan mount partisi yang telah dibuat ke dalam sistem Partisi baru yang telah siap digunakan. Untuk melakukan mount ke dalam sistem, bisa dilakukan secara manual atau menambahkan entry baru di /etc/fstab agar bisa di-mount secara otomatis setelah boot up.
root@liley-II# fdisk /dev/sdb
The number of cylinders for this disk is set to 38166.
There is nothing wrong with that, but this is larger than 1024,
and could in certain setups cause problems with:
1) software that runs at boot time (e.g., old versions of LILO)
2) booting and partitioning software from other OSs
(e.g., DOS FDISK, OS/2 FDISK)
Command (m for help): n
Command action
e extended
p primary partition (1-4)
p
Partition number (1-4): 1
First cylinder (1-38166, default 1):
Using default value 1
Last cylinder, +cylinders or +size{K,M,G} (1-38166, default 38166):
Using default value 38166
Command (m for help): t
Selected partition 1
Hex code (type L to list codes): 83
Command (m for help): w
The partition table has been altered!
Calling ioctl() to re-read partition table.
Syncing disks.
Perintah yang dijalankan adalah seperti berikut:
root@liley-II# mkfs.ext4 /dev/sdb1
mke2fs 1.41.9 (22-Aug-2009)
Filesystem label=
OS type: Linux
Block size=4096 (log=2)
Fragment size=4096 (log=2)
2444624 inodes, 9770492 blocks
488524 blocks (5.00%) reserved for the super user
First data block=0
Maximum filesystem blocks=0
299 block groups
32768 blocks per group, 32768 fragments per group
8176 inodes per group
Superblock backups stored on blocks:
32768, 98304, 163840, 229376, 294912, 819200, 884736, 1605632, 2654208,
4096000, 7962624
Writing inode tables: done
Creating journal (32768 blocks): done
Writing superblocks and filesystem accounting information: done
This filesystem will be automatically checked every 33 mounts or
180 days, whichever comes first. Use tune2fs -c or -i to override.
Dalam contoh ini, aku akan melakukan mount partisi ke direktori /ext (pastikan bahwa direktori /ext telah dibuat).
Untuk melakukan mount secara manual, jalankan perintah berikut:
root@liley-II# mount -t ext4 /dev/sdb1 /ext
Atau bisa juga dengan menambahkan entry di /etc/fstab agar bisa di-mount secara otomatis. Dalam kasus ini, /etc/fstab yang aku miliki berisi:
# /etc/fstab: static file system information.
#
# Use 'blkid -o value -s UUID' to print the universally unique identifier
# for a device; this may be used with UUID= as a more robust way to name
# devices that works even if disks are added and removed. See fstab(5).
#
#
proc /proc proc defaults 0 0
# / was on /dev/sda1 during installation
UUID=2a927340-4561-419a-809a-e48b4925d093 / ext4 errors=remount-ro 0 1
# swap was on /dev/sda5 during installation
UUID=bc428fbf-8cbe-4fc6-ba6d-d4d7ec3bb4a1 none swap sw 0 0
/dev/scd0 /media/cdrom0 udf,iso9660 user,noauto,exec,utf8 0 0
/dev/sdb1 /ext ext4 defaults 0 1
Diposkan oleh Eko Budi Prasetyo Link ke posting ini
Review Buku: The Winner Stands Alone
0 komentar Published by Eko Budi Prasetyo on Selasa, 17 November 2009 di 11:06
Akhirnya aku menemukan karya Paulo Coelho yang lain yang menurutku bisa disejajarkan dengan The Alchemist dan Devil And Miss Prym. Tak seperti novel-novel Coelho yang sebelumnya, The Winner Stands Alone menurutku adalah sebuah gebrakan. Sejauh yang kubaca, biasanya tulisan Coelho sarat dengan muatan spiritual dan memang sih rada-rada nyeleneh dan mistis, namun pada karyanya yang satu ini, patutlah kuberikan bintang 5 di Goodreads.
Berkisah tentang Igor, pemilik salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Rusia yang kehilangan cintanya karena ditinggal oleh istrinya yang berpaling ke laki-laki lain. Igor berjanji akan menghancurkan seluruh dunia hingga mantan istrinya kembali padanya. Setiap kali dia menghancurkan salah satu dunia, sebuah pesan akan dikirimkan kepada istrinya, berharap pesan tersebut dapat menarik perhatiannya. Berlatar belakang festival Film yang diadakan di Cannes, novel ini menyajikan kisah Igor dalam waktu 24 jam yang mampu mengubah nasib orang-orang yang bertemu dengannya selamanya: Olivia, wanita penjual kerajinan di pinggir pantai; Javits, produser dan distributor korup; Maureen, penulis naskah film yang hendak menjual filmnya ke Javits; Gabriela, sang aktris muda; Jasmine Tiger: seorang model; Hamid, pengusaha di dunia fashion yang memulai usahanya dari nol; dan tentunya Ewa, mantan istri Igor.
Novel ini menceritakan berbagai macam kemewahan, glamor, dan kehidupan orang-orang kaya yang bergelimang uang namun penuh dengan kepalsuan dan kepura-puraan. Sungguh menarik, karena menurutku Coelho sangat cerdas dalam menyajikan isi novel dan mengaitkannya dari aspek psikologis manusia yang cenderung tamak dan mementingkan materi untuk menutupi segala kepalsuan dibelakangnya. Namun demikian, dibalik semua itu, banyak pula pesan-pesan moral yang tersebar di seluruh bagian buku. Salah satu kutipan yang aku sukai adalah: "Orang hanya menghargai sesuatu kalau mereka sempat ragu apakah mereka akan mendapatkannya atau tidak."
Diposkan oleh Eko Budi Prasetyo Link ke posting ini
Label: Book Review
Sinkronisasi Folder Pada Windows dengan SyncToy
0 komentar Published by Eko Budi Prasetyo on di 10:48Berawal dari kebutuhan untuk melakukan sinkronisasi dokumen-dokumen kantor dari file server ke laptopku, aku melakukan googling untuk tools sinkronisasi folder, dan menemukan SyncToy yang dikembangkan oleh Microsoft. Versi yang aku gunakan adalah versi 2.0. Tools kecil ini lumayan membantu, daripada mesti bolak-balik copy dan replace, boros di proses IO nya.
Pertama-tama yang harus dilakukn adalah membuat Folder Pair yang berisi pasangan folder yang akan disinkronisasi filenya. Selanjutnya akan muncul pilihan untuk memilih Left Folder dan Right Folder yang masing-masing merepresentasikan folder yang isinya akan disinkronisasi.
Ada 3 mode sinkronisasi:
- Synchronize: Semua perubahan (penghapusan, dokumen baru, perubahan dokumen) yang ada pada Left Folder ataupun Right Folder akan disinkronisasikan ke folder yang lain. Hasil akhirnya adalah kedua folder berisi dokumen-dokumen yang sama.
- Echo: Semua perubahan yang ada Left Folder akan disinkronisasikan ke Right Folder. Namun perubahan pada Right Folder tidak akan berpengaruh pada Left Folder.
- Contribute: Semua perubahan yang ada Left Folder kecuali operasi penghapusan akan disinkronisasikan ke Right Folder. Namun perubahan pada Right Folder tidak akan berpengaruh pada Left Folder.
Ketiga pilihan mode ini menurutku sudah cukup mengakomodasi kebutuhanku. Dan yang paling penting adalah aplikasinya sangat mudah untuk digunakan, dan gratis tentunya. Terlebih lagi sebelum melakukan proses sinkronisasi, bisa di-preview terlebih dahulu operasi apa saja yang akan dilakukan. Jadi bisa memastikan perubahan yang akan terjadi setelah dilakukan sinkronisasi.
Aplikasi SyncToy 2.0 bisa diunduh secara gratis melalui link ini:
http://www.microsoft.com/downloads/details.aspx?familyid=C26EFA36-98E0-4EE9-A7C5-98D0592D8C52&displaylang=en
Diposkan oleh Eko Budi Prasetyo Link ke posting ini
Dewey: Si Kucing Perpustakaan yang Mengagumkan
0 komentar Published by Eko Budi Prasetyo on Sabtu, 07 November 2009 di 22:02Dengan format memoar, pengarangnya selain mengulas Dewey, juga mengulas beberapa potong kisah hidupnya yang menurutku malah aneh karena seolah-olah buku ini menjadi tak fokus. Namun demikian, sesuai dengan judul bukunya, semua kisah itu berkaitan dengan si lucu Dewey. Dewey yang semula dipelihara dengan sukarela oleh Vicki, akhirnya menjadi daya tarik perpustakaan itu sendiri. Dewey memiliki karakter senang dibelai dan tidak takut pada orang asing, yang menjadikannya dicintai oleh penduduk kota Spencer. Selain itu, dia tidak membeda-bedakan dan pilih kasih. Semua pengunjung yang menyukainya pasti merasakan bahwa mereka memiliki hubungan khusus dengan Dewey: walaupun kenyataannya tentu saja itu karena Dewey bisa memikat hati mereka.
Kisah ini luar biasa. Menurutku banyak sekali hal-hal yang bisa dicontoh dari buku ini walaupun yang menjadi tokoh utamanya adalah seekor kucing. Dewey bisa menginspirasi banyak orang dan membuat orang jatuh hati padanya. Dikisahkan pula bagaimana perilakunya ketika dia bisa menyenangkan seorang anak yang telah jauh-jauh datang dan memberikan hadiah mainan kepadanya. Dewey sendiri tidak menyukai jenis mainan seperti itu, namun ketika kunjungan tersebut, dia bisa menyenangkan anak tersebut dengan memainkan mainan hadiahnya. Aku benar-benar masih setengah percaya jika ini adalah kisah nyata. Kok bisa ada kucing yang seperti ini.
Kurasa, semua pecinta kucing wajib membaca buku ini (dan tentu saja kurasa pengarang buku ini adalah pecinta kucing sejati). Dari mulai kisah yang menyenangkan, mengharukan, lucu, dan menyedihkan semua ada disini. Melihat sampulnya saja sudah membuatku ngiler. Bagaimana tidak, gambar kucing lucu dan manis yang seolah sedang tersenyum siap menggoda: "Hai pecinta kucing, bacalah kisah tentangku!".
Diposkan oleh Eko Budi Prasetyo Link ke posting ini
Label: Artikel, Book Review
SSH tanpa password pada Putty
0 komentar Published by Eko Budi Prasetyo on Minggu, 25 Oktober 2009 di 11:14Pada tulisan sebelumnya (SSH Tanpa Password), dibahas mengenai bagaimana melakukan autentikasi SSH tanpa memasukkan password di Unix. Pada tulisan kali ini, aku ingin mengulas langkah-langkah autentikasi SSH tanpa password menggunakan PuTTY di Windows. Di Windows, proses ini dapat dilakukan menggunakan tools PuTTYgen untuk meng-generate pasangan public/private key, PuTTY sebagai SSH client, serta Pageant yang bersifat optional sebagai authentication agent untuk PuTTY.
Membuat pasangan Public/Private Key
Untuk meng-generate pasangan public/private key, jalankan aplikasi PuTTYgen.
Klik Generate untuk membuat pasangan public/private key yang baru. Jika memiliki private key yang sebelumnya dibuat di Unix, bisa melakukan import dengan mengklik Conversions->Import Key.
Masukkan Key comment sesuai dengan keinginan. Kosongkan field Key passphrase dan confirm passphrase agar ketika melakukan autentikasi SSH tidak perlu memasukkan password. Namun demikian, passphrase ini bisa diisi bebas. Jika passphrase diisi, untuk melakukan login SSH tanpa memasukkan password sama sekali, dapat menggunakan toos Pageant yang hanya menanyakan passphrase sekali saja ketika key nya ditambahkan dalam daftar key di Pageant.
Simpan public key dan private key yang telah dibuat. Private key yang dibuat akan memiliki ekstensi .ppk.
Untuk menyimpan public key yang dibuat di server tujuan agar dapat melakukan autentikasi SSH menggunakan private key yang dibuat sebelumnya, lakukan langkah-langkah berikut:
- Login ke server tujuan menggunakan PuTTY.
- Tambahkan isi public key yang telah dibuah ke dalam file ./ssh/authorized_keys yang ada pada direktori home user yang dituju.
- Login ke Server menggunakan Putty
- Jalankan aplikasi PuTTY.
- Pilih menu Connection->SSH->Auth. Klik browse dan pilih private key yang telah dibuat.
- Pilih menu Connection->Data. Masukkan auto-login username dengan user account yang dituju pada server tujuan. Ini dilakukan agar ketika melakukan autentikasi, tidak perlu memasukkan username dan password.
- Pada menu Session, masukkan alamat host server tujuan, dan masukkan nama session dan klik Save untuk menyimpan session. Ini dilakukan agar konfigurasi sesi yang diinginkan bisa disimpan, dan kedepannya tidak perlu repot-repot lagi untuk melakukan langkah 2 dan 3.
- Klik Load pada sesi yang telah disimpan untuk melakukan login ke server tujuan.
Pageant dapat digunakan untuk memudahkan proses autentikasi menggunakan pasangan public/private key pada PuTTY. Aplikasi ini akan menyimpan private key yang telah dibuat sebelumnya menggunakan PuTTYgen di memory, sehingga pengguna dapat menggunakannya langsung tanpa perlu memasukkan passphrase yang ada pada private key tersebut. Dibanding dengan cara sebelumnya, pengguna masih bisa melakukan login tanpa perlu memasukkan password walaupun private key tersebut diproteksi dengan passphrase. Pengguna hanya akan diminta untuk menginput passphrase yang benar ketika menambahkan private key untuk selanjutnya disimpan di memory.
Pageant memungkinkan pengguna tidak perlu mengatur konfigurasi private key pada PuTTY. Bahkan jika pengguna tersebut memiliki lebih dari satu private key yang digunakan untuk melakukan login pada server yang berbeda-beda, semuanya dapat diakomodasi melalui Pageant.
Untuk menggunakan PuTTY bersama Pageant, lakukan langkah-langkah berikut:
- Jalankan aplikasi Pageant.
- Pada jendela utama, klik Add Key untuk menambahkan private key untuk disimpan di memori. Masukkan passphrase jika ada.
- Jalankan Putty, dan login ke server tujuan.
SSH Tanpa Password
Diposkan oleh Eko Budi Prasetyo Link ke posting ini
Foto ini aku ambil di Putrajaya, sebuah kawasan pusat pemerintahan yang letaknya tak terlalu jauh dari Kuala Lumpur. Ketika senja tiba, semua pemandangan dan arsitektur seperti ini terlihat begitu indah. Hanya sayangnya saja ketika gampar ini aku ambil, aku belum mempersiapkan tripod agar efek air di danau buatannya tak terlihat kaku. Momen seperti memang tak berlangsung lama. Tak berapa lama setelah mengambil foto ini aku mengambil dan mempersiapkan tripod. Namun matahari sudah semakin tenggelam, sehingga langit yang semula jelas terlihat biru kemerahan menjadi gelap.
Putrajaya dapat ditempuh dari Kuala Lumpur dalam waktu kurang dari 30 menit. Karena kawasan ini adalah pusat kantor-kantor pemerintahan, yang termasuk didalamnya kantor Perdana Menteri, ketika hari libur tiba, kota ini tampak seperti kota mati. Jalanan begitu lengang dan kosong. Kalau ada kota semacam ini di Indonesia, pasti sudah dipenuhi orang-orang yang pacaran karena saking sepinya, dan jalanannya digunakan untuk balapan liar. Dengan arsitektur bangunan yang terhitung baru, yang menurut informasi dibangun sekitar 10 tahun yang lalu ketika Malaysia sedang berada pada jaman keemasannya, ditambah dengan lengangnya kota, plus suasananya yang aman, kota ini cocok untuk fotografer yang demen mengambil foto-foto arsitektur: dari mulai kantor Perdana Menteri, Mesjid Rayanya, plus bangunan-bangunan lain.
Di tengah-tengah kota, dibuat danau buatan yang lumayan besar. Dan setahuku sampai ada wisata perahunya juga. Di tengah-tengah danau dibangun beberapa jembatan, yang aku taksir minimal ada 4 lah yang menyeberangi danau ini. Salah satunya adalah jembatan yang ada dalam fotoku diatas. Entah mengapa jembatan ini tak diselesaikan. Untuk sebuah negara kaya seperti Malaysia kurasa nggak banget kalau alasannya karena kekurangan dana. Atau mungkin sengaja tidak diselesaikan karena objeknya menarik untuk para fotografer yang berkunjung.
Diposkan oleh Eko Budi Prasetyo Link ke posting ini
Label: Fotografi, Wide Angle
Kerjaan: Lain dulu, lain sekarang
0 komentar Published by Eko Budi Prasetyo on Senin, 12 Oktober 2009 di 14:31- Berasa makan gaji buta. Masih belum jelas apa pekerjaanku. Bahkan sempet kepikiran sebenarnya di departemenku butuh orang tambahan nggak sih?
- Biasanya ngebantu-bantuin kerjaan senior, yang untungnya sih baik-baik dan nggak pernah sampe disuruh bikin kopi :P
- Suasana kerja sangat menyenangkan, lingkungannya nyaman. Secara umum, tingkat stress dalam lingkungan kerja masih tergolong rendah.
- Belum diberikan tanggung jawab untuk memegang suatu proses bisnis tertentu atau peoyek tertentu
- Waktu banyak terbuang dengan percuma, karena nggak banyak yang dikerjakan. Bisa aku manfaatkan untuk membaca beberapa ebook serta artikel-artikel lain.
- Lembur: Karena kerjaan dikit, kayaknya cuma beberapa kali aja, itu juga untuk kerjaan-kerjaan yang mendadak dan perlu dikerjakan cepet.
- Rasio job desc dan gaji: sangat worth lah, malah berasa makan gaji buta.
- Email: tiap hari masih kosong. Rata-rata menerima email dikit banget, dan isinya biasanya bukan kerjaan.Jam kantor: datang pagi-pagi, pulangnya nggak terlalu malam lah (probation gituh loh)
- Mulai diberikan pekerjaan dan tanggung jawab yang lebih spesifik
- Load pekerjaan secara umum masih belum terlalu tinggi. Waktu luang yang dimiliki masih banyak. Rasio antara kerja dan nggak kerja, bisa dibilang 1:1.
- Mulai melihat adanya beberapa proses bisnis yang bisa diautomatisasi. Yang tentunya jadi kerjaan iseng-iseng berhadiah. Kalau jalan diterusin, kalau nggak ya udah.
- Ketika load pekerjaan sedang mencapai puncaknya, efeknya cuma sementara dan tidak terus berlanjut. SLA untuk pekerjaan masih bisa dijamin. Pekerjaan paling telat dikerjakan keesokan harinya dan bisa langsung solved.
- Lembur: Jarang banget. Sesekali masih boleh lah. Rata-rata lembur sebulan maksimal 2 atau 3 kali. Kalau sengaja nyari lemburan sih jangan mimpi deh.
- Rasio job desc dengan gaji: masih sama, belum ada keluhan. :P
- Email: walaupun email yang masuk mulai banyak, biasanya jarang sampai menumpuk. Ketika aku pulang, aku pastikan semua email sudah terbaca dan ter-follow up.
- Sore-sore masih sering ada ajakan untuk makan mie ayam di belakang kantor. Padahal waktu masih menunjukkan jam 4.
- Akhir tahun ketika semua masih cuti, masih bisa sempet maen game rame-rame se-divisi. Jam kerja pula lagi.Jam kantor: datang jam 8 an lewat, pulangnya tepat waktu :D
- Sejak ganti bos baru, kerjaan jadi lebih fleksibel, walaupun secara load sih sama aja.
- Load pekerjaan tentunya meningkat lah. Kerjaan yang aku lakukan sudah jauh lebih spesifik dan general (loh): mulai dari ngurusin audit, dokumen harian, urusan koding dan automatisasi, dan sampe iseng-iseng memanfaatkan PC yang nggak kepakai sebagai server lokal yang akhirnya malah kepake banget.
- Mulai melihat adanya ketergantungan data dari IT, biar nggak bolak-balik minta terus. Tapi apa daya nggak punya storage yang cukup.
- Suasana kerja masih menyenangkan, beberapa orang senior yang diberikan tanggung jawab yang lebih besar mulai sibuk mengurusi hal-hal yang non teknis. Ini menyebabkan pekerjaan teknis jadi beraalih ke aku semua.
- Pagi-pagi masih bisa baca koran. Jam kerja yang bener-bener kerja baru mulai jam 10 pagi, dan biasanya jam 3 atau jam 4 dah kelar semua. Bisa istirahat dan pulang cepet.
- Jam kantor: dateng rada siang, dan pulang tepat waktu. Intinya ngapain kerja lama-lama kalo bisa pulang cepet. Mulai melihat adanya peluang untuk memperoleh dan belajar hal lain di luar jam kantor.
- Masih sempet lah ngerjain proyek-proyek diluar kepentingan kantor di luar jam kantor.
- Email: kayaknya nggak ada perubahan dari yang sebelumnya.
- Restrukturisasi dan reorganisasi mengacaukan segalanya. Kurang resources menjadi hal yang lumrah.
- Jam kantor: datang sebelum jam 8, pulangnya bisa sampai malam.
- Load pekerjaan: meningkat dengan drastis. Issue kurang orang menjadi issue utama, namun nggak bisa solved dengan segera karena ada kebijakan zero growth dari perusahaan
- Suasana kerja sudah mulai tak kondusif (karena loadnya tinggi) walaupun masih menyenangkan lah.
- Pagi-pagi, udah nggak keburu baca koran. Kerjaan utama pagi-pagi adalah panen di Farm Ville mumpung lagi sempet. Siangnya biasanya udah kesita dengan banyak pekerjaan.
- Pekerjaan menjadi nggak fokus. Banyak sekali hal-hal kecil yang harus dikerjakan walaupun tidak mendesak tapi penting. Mesti bisa bekerja dan menyelesaikan masalah secara all-in-one.
- Email: Ini sih jangan tanya. Lagi weekend 2 hari aja bisa-bisa nambah sampai puluhan, apalagi pas hari kerja. Bikin stress pas ngebuka email hari Senin pagi.
- Kebanyakan target yang mesti dicapai. Padahal banyak hal juga yang mesti dibenahi dari proses bisnis yang sudah ada dan berjalan sejak dulu kala.
- Lembur: Suka-suka deh. Kalau dulu nyari lemburan susah karena emang mau ngerjain apa lagi. Kalau sekarang: bisa milih mau lembur hari apa. Selalu ada pekerjaan yang bisa dikerjakan untuk lembur.
- Sore-sore bawaannya mau pulang cepet aja kalau lagi nggak ada pekerjaan. Biar bisa cepet sampai rumah dan istirahat deh.
- Rasio gaji dan job desc: Bikin ngeneg aja. Apalagi kena korban Job Valuation di perusahaan yang konon katanya bulan Oktober ini udah kelar.
Diposkan oleh Eko Budi Prasetyo Link ke posting ini
Label: Iseng, My Life, Related with my work








