Sabtu, Juni 10, 2017

🚡 Gowes Edisi Nanjak: Sentul - Pinus 🌲

Pemandangan di titik finish
Sejauh ini, jika aku gowes ke daerah sekitaran Sentul, destinasinya tidak jauh-jauh dari Km 0, Gunung Pancar, Leuwi Hejo, Rainbow Hill, Gunung Geulis, dan Katulampa. Nah, berawal acara gowes salah seorang temanku di komunitas gowes Bintaro Loop yang rutenya agak-agak nggak standar (diluar destinasi yang aku sebutkan diatas), ternyata ada rute lain yang total elevasinya sekitaran 2000m, dan jarak tempuhnya kurang lebih 65km PP. Rekan-rekanku memberi nama destinasi dari rute ini 🌲Pinus. Jarak dari Bakmi Golek Sentul kurang lebih 33km, jadi jika PP ya tinggal dikali 2 saja.

Yang membuatku penasaran adalah total elevasi yang didapat, yaitu sekitaran 2000m, padahal jaraknya hanya 60km saja. Elevasi di titik finishnya juga sekitaran 1000mdpl, masih dibawah Mang Ade (Puncak Pass) yang memiliki elevasi 1450mdpl. Nah, ini kan artinya jalanan sepanjang rute ini berbukit-bukit alias naik turun. Informasi lain yang aku dapatkan adalah jalanan sepanjang rute ini tidaklah mulus, dan sangat tidak disarankan menggunakan Road Bike, karena ngeri ketika turunan + jalanan rusak nya.

Sabtu, Mei 06, 2017

Ulasan Wahoo ELEMNT

Beberapa waktu yang lalu aku membeli ELEMNT, perangkat bike computer keluaran Wahoo yang sudah dilengkapi dengan GPS. Sejauh ini, sebenarnya kebutuhanku untuk merekam aktivitas bersepedaku sudah cukup terakomodasi oleh aplikasi Cyclemeter + Strava. Sementara untuk dapat memonitor kecepatan, heart rate, dan cadence secara realtime, aku sudah cukup puas menggunakan RFLKT keluaran Wahoo juga. iPhone yang aku gunakan berfungsi sebagai bike computer nya, dan informasi nya akan ditampilkan melalui RFLKT.

Namun demikian godaan untuk memiliki ELEMNT sangatlah besar, apalagi di Bukalapak aku menemukan ada yang menjual barang ini dengan harga Rp4,5 juta saja. Beda tipis lah dari harga aslinya USD 329, dan pada umumnya ELEMNT dibanderol dengan harga diatas Rp 5 juta di Bukalapak, dan bahkan ada juga yang menjualnya di harga Rp 6 juta an. Salah satu kekurangan yang paling mendasar ketika menggunakan handphone sebagai bike computer adalah borosnya konsumsi baterai, terutama untuk aktivitas gowes yang memakan waktu cukup panjang. Selain itu untuk aktivitas gowes yang mengharuskanku untuk melihat rute dan arah secara rutin, terasa sangat merepotkan jika aku harus sering berhenti untuk melihat peta di handphone. Kedua hal ini menurutku sudah cukup menjustifikasiku untuk membeli perangkat ini. 😁

Minggu, April 09, 2017

Pengalaman Gowes Bromo 100KM 2017: Tanjakannya Mantapp!!

Pada tanggal 25 Maret lalu, aku dan temanku Muh berkesempatan untuk mengikuti event tahunan yang diselenggarakan oleh Jawa Pos: Bromo 100KM. Sesuai dengan namanya, jarak tempuhnya kurang lebih 100km, start dari Surabaya dan finish di Wonokitri Bromo. Rencana awalnya, seharusnya ada 3 orang teman kantorku yang ikut. Namun sayangnya ketiga-tiganya sakit dan berhalangan, sehingga tidak bisa mengikuti event ini.

Packing
Ini adalah kali pertama aku gowes ke luar kota. Dan berhubung ke Surabaya naik peaawat, jadi mau nggak mau sepeda harus dimasukkan ke dalam bike box. Agak ribet juga ternyata packing sepeda ke dalam bike box.
Untuk pengalaman pertamaku ini, perlu waktu 1 jam lebih untuk membongkar sepeda dan menatanya ke dalam bike box. Yang perlu di bongkar antara lain:
  • Ban depan dan belakang, pastikan keduanya sudah kempes ketika dimasukkan ke dalam bike box.
  • Handle bar
  • Seat post
  • Pedal

Selasa, Maret 21, 2017

Gowes Edisi Endurance Ride: Gadog-Cianjur PP

pemandangan kebun teh dari warung Mang Ade
Ini adalah gowes pertamaku dalam menjajal medan tanjakan dengan menggunakan crank compact 50/34T. Sebelumnya aku menggunakan crank 53/39T yang memang didesain untuk medan yang relatif flat. Walaupun crank ini telah teruji untuk melibas tanjakan KM0 melalui rute Taman Budaya, namun rasa-rasanya akan sangat mustahil untuk bisa melibas tanjakan di event Bromo 100 tanpa berhenti di tengah jalan. Melibas tanjakan dengan grade 10-15% saja sudah ngos-ngosan, apalagi jika tanjakannya panjang.

Gowes edisi kali ini memang aku tujukan sebagai uji nyali dan mental dalam mempersiapkan event Bromo 100 yang akan digelar minggu ini. Jadi itung-itung sebagai latihan terakhir lah. Selama ini biasanya jika latihan di medan menanjak memang on the spot, nggak gowes dari rumah. Jadi pas nanjak ya masih fresh. Untuk menguji endurance, mesti dipaksa melibas tanjakan dalam kondisi stamina sudah terkuras. Dan aku melihat rute Gadog-Cianjur ini bisa merepresentasikan kondisi diatas. Tanjakan pertama dari Gadog-Mang Ade sebagai pemanasan, sementara tanjakan kedua dari Cianjur-Mang Ade sebagai uji endurance nya.

Sabtu, Februari 25, 2017

Jakarta Audax 2017

Pada tanggal 19 Februari lalu, aku berkesempatan untuk menjajal event Jakarta Audax yang biasanya digelar setiap tahun. Audax bukanlah event untuk balapan. Tantangannya adalah menyelesaikan jarak gowes yang lumayan jauh di rentang waktu tertentu. Biasanya, pada tahun-tahun sebelumnya jarak tempuh untuk event ini minimum 200km, namun pada tahun ini dibuka 2 kategori: 100km dan 200km.

Aku memilih kategori 100km karena tidak ingin terlalu capek dan biar cepet kelar. Sebenarnya sih tertarik juga untuk menjajal 200km, cuma berhubung sebelumnya belum pernah ikutan event nya, aku putuskan untuk mengikuti kategori 100km saja. Apalagi acaranya hari Minggu, kalau tepar kan ribet karena besoknya harus masuk kantor.

Selasa, Februari 21, 2017

Resolusi 2017

Walaupun saat ini sudah memasuki bulan Februari, tidak ada kata terlambat untuk menuliskan resolusiku di tahun 2017 ini. Baru kusadari pentingnya untuk menuliskan target atau resolusi yang ingin kita capai ketika aku menuliskan kontemplasi untuk tahun 2016 lalu dan setelah ngubek-ngubek aku tidak menemukan target yang ingin kucapai di tahun tersebut. Nah kalau nggak ada target, bagaimana kita bisa mengetahui progress dan pencapaian kita?

Berbicara mengenai resolusi, tidak harus selalu berkaitan hal-hal yang luar biasa. Terkadang hal-hal yang sepele dan terlihat mudah malah lebih sulit untuk dicapai jika targetnya berkesinambungan.

Selasa, Januari 17, 2017

Kontemplasi & Catatan 2016

Tahun 2016 telah berlalu, dan seperti biasa banyak hal-hal yang bisa dijadikan bahan perenungan untuk perbaikan kedepannya. Melalui tulisan ini, aku ingin berbagi cerita terkait dengan kejadian-kejadian yang kuanggap cukup penting, beberapa pencapaian, serta harapan-harapan yang tidak tercapai di tahun 2016 lalu.

Sejujurnya, di tahun 2016 ini tidak terlalu banyak target yang ingin aku capai. Kesalahanku yang paling fatal mungkin karena memang di tahun 2016 aku tidak membuat resolusi secara spesifik seperti tahun sebelumnya. Jadi ya pencapaian yang ada tidak bisa aku ukur dan dibandingkan dengan target yang sudah ditentukan. Namun demikian di awal tahun aku memiliki target terkait dengan aktivitas bersepedaku yang sudah aku tentukan secara spesifik dan akan kuulas disini.

Jumat, Januari 06, 2017

Gowes Perdana 2017

Bintaro Loop menjadi rute gowes perdana ku di tahun 2017 ini. Tidak seperti tahun lalu ketika gowes perdanaku masuk trek JPB dengan MTB ku, gowes perdana kali ini aku lebih memilih menggunakan road bike dan muter-muter saja di Bintaro Loop. Tadinya sih mau gowes di hari Rabu, dan karena itungannya di hari itu tidak ada jadwal peloton yang biasa gowes di Bintaro Loop, rencanaku mau gowes santai saja. Namun apa daya pagi-paginya hujan deras. Abis shubuh ya mendingan tarik selimut deh.

Jadilah gowes perdananya bergeser ke hari Kamis, dimana aku bisa gowes bareng dengan rombongan yang lain. Pada awalnya, gowesnya cukup santai dengan kecepatan rata-rata 30km/jam. Namun di tengah-tengah tiba-tiba ada rider yang melaju kencang yang diikuti oleh beberapa anggota peloton yang lain sehingga pelotonnya menjadi rusak. Akhirnya pun aku mengikuti rombongan peloton yang lebih cepat tersebut, namun apa daya, nggak kuat bo. Gara-garanya aku ngikut di belakang salah satu rider namun aku tidak sadar kalau rider ini sudah lumayan tertinggal dari peloton di depannya. Tambah susah deh, mending nyerah aja dan ngikut peloton yang lebih lambat.

Walaupun peloton di belakang lebih lambat, namun berhubung sudah jalan 1 jam, kecepatannya sudah mulai tinggi. Perkiraanku kecepatan rata-ratanya diatas 35km/jam. Dan di beberapa segmen bisa mencapai 40km/jam. Beruntung aku masih bisa mengikuti, paling nggak heart rate ku masih di Zona 3. Pada akhirnya sekitar jam 8, rombongan pelotonku bubar, dan aku jarak yang aku tempuh sekitar 68km dalam waktu 2 jam. Lumayan kecepatan rata-ratanya 34km/jam, dan mendapat 10 PR di Strava. Not bad lah untuk gowes perdana.

Senin, November 28, 2016

Keberuntungan atau Kemalangan

Beberapa waktu yang lalu aku membaca sebuah buku yang berjudul If You're So Smart, Why Aren't You Happy yang ditulis oleh Raj Raghunathan. Aku nggak akan membahas tentang isinya di sini, namun ada potongan cerita yang cukup menarik dan pernah kudapat sebelumnya dari sebuah milis beberapa tahun silam.

Senin, November 21, 2016

Selamat Datang di Dunia Introvert

Telah lama aku menyadari bahwa diriku adalah seorang introvert. Dari sejak dulu kala aku paling benci dengan keramaian dan bertemu dengan orang-orang baru. Sebaliknya, aku lebih senang menghabiskan waktuku sendirian: membaca buku/artikel, menulis, dan sekelumit aktivitas lainnya yang bisa memaksaku untuk fokus dan tidak perlu melibatkan kontak dengan orang lain. Kalaupun harus bertemu dengan orang lain, biasanya mereka adalah orang-orang yang sudah aku anggap dekat dan aku kenal dengan baik.