Kamis, Juni 18, 2009

Karena Wanita Membutuhkan Rasa Aman

Dalam tulisanku kali ini, aku mencoba untuk menguraikan pendapat-pendapat serta opini-opiniku seputar potongan kehidupan setelah menikah. Info yang aku dapat tentunya aku dapatkan dari orang-orang sekitarku baik itu teman kerja maupun keluarga sendiri. Namun semuanya dari pihak laki-laki (jadi bisa disimpulkan tulisan ini sangat sangat subyektif). Sayang aja nih nggak dapet infonya dari pihak wanitanya, maklum untuk urusan beginian siapa juga yang mau cerita :P. 

Masa-masa lajang adalah masa-masa penuh kebebasan. Belum ada beban dan tanggungan, gaji juga masih utuh, pos-pos pengeluaran belum terlalu banyak *kecuali orangnya boros*. Sementara itu setelah menikah, pengeluaran menjadi lebih banyak, ada tanggungan istri dan anak, sehingga semua yang menyangkut masalah keuangan harus didiskusikan dulu, walaupun itu untuk kepentingan keluarga sekalipun. Itulah kata mereka, laki-laki yang telah menikah, yang ceramahnya seringkali kudengar.

Ungkapan dan sindiran seperti "Wah, itu mesti di acc sama menteri keuangan dulu" sudah menjadi jamak di lingkungan kantorku, terutama dari suami-suami yang istrinya memang tinggal di rumah dan tidak bekerja. Bahkan walaupun sang istri sudah bekerja sekalipun, tetap saja pengeluaran si suami mesti di-acc dulu. Tak heran, untuk membeli barang yang katakanlah nggak terlalu mahal dan nggak aneh-aneh pula *dalam artian masih sangat terjangkau sekalipun* tapi bukan termasuk kebutuhan primer, perlu persetujuan istri dulu *pernyataan yang ini sih aku dengar dari teman perempuanku sendiri yang telah menikah*.

Berhubung aku sendiri belum menikah dan belum mengalami masalah-masalah seperti itu, muncullah berbagai pertanyaan yang tak bisa aku pahami. Jika aku membuat sebuah daftar pertanyaan mengenai masalah ini, kira-kira hasilnya akan seperti ini:
- Apakah kekuasaan istri itu sedemikian tingginya sehingga dia adalah orang yang berhak untuk meng-acc segala pengeluaran? Pertanyaan ini berlanjut dengan: Lantas apakah kuasa suami sang pencari nafkah sangat kecil pada uang yang diperolehnya? Aneh memang. Apakah semua ini terjadi karena suami tidak bisa dipercaya untuk memegang uang atau karena kebanyakan suami adalah tipe-tipe pemboros yang selalu mementingkan kepentingannya sendiri dibandingkan dengan kepentingan keluarganya? Ataukah suami biasanya cenderung malas untuk memegang uang dan menyerahkan sepenuhnya pengelolaan keuangan kepada istri? 

- Bagaimana status uang yang diperoleh oleh suami? Apakah sepenuhnya milik istrinya? Secara istri yang meng-acc semua pengeluaran. Seringkali aku mendengar istilah seperti ini: "Uang suami adalah uang istri, uang istri adalah uang istri." Terdengar tak adil. Memang. Ada yang salah. Dalam pemahaman agamaku, uang suami adalah uang suami, uang istri adalah uang istri, tetapi suami wajib menafkahi istri dan keluarganya. Disini berarti suami seharusnya bisa mengontrol secara penuh masalah keuangannya. Istri seharusnya menerima lah, selama dalam batas yang wajar, sesuai yang aku pelajari dalam hadis-hadis hshahih. Dalam Islam kan nggak dikenal harta gono-gini. Harta milik suami ya nggak bisa di-klaim oleh istrinya. Tapi kenapa yang terjadi seolah harta suami ya harta istri juga.

 - Sebenarnya suami itu terpaksa atau sukarela yah dengan keadaan yang seperti ini? Habisnya seringkali mereka berkata seperti ini: "Kamu enak tuh masih lajang, beli aja barang-barang yang kamu suka selagi masih bebas. Nanti kalo sudah nikah susah lho, mesti ada yang meng-acc dulu". Kalo mendengar pernyataan diatas, sepertinya mereka terpaksa melakukan itu semua, dan seolah-olah iri dengan status kelajangan teman-teman mereka sendiri.

Walaupun cuma tiga poin, tapi pertanyaannya membuat pening.

Selain itu, sedikit menyimpang dari topik utama, saat ini jarang sekali wanita *yang belum menikah* yang aku temui yang benar-benar ingin menjadi ibu rumah tangga, dalam arti dia tidak bekerja dan mengejar karir. Kebanyakan dari mereka menginginkan tetap bekerja setelah menikah. Ada selusin alasan mengapa mereka menginginkan tetap bekerja: ingin mengejar karir dan maju, ingin mandiri, ingin tidak tergantung pada suaminya just in case terjadi apa-apa pada suaminya, dan alasan-alasan lain. Alasan-alasan yang berhubungan dengan anak ataupun apapun seolah tak pernah terbahas. Dari sini aku melihat adanya kekurangpercayaan istri pada suaminya. Agak-agak aneh aja, perempuan diciptakan sebagai pelengkap untuk laki-laki dan begitu pula sebaliknya. Ini kok malah ingin mandiri, padahal manusia sendiri adalah makhluk sosial yang tak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Terdengar agak-agak aneh.

Dari sini aku mencoba menarik sebuah pertanyaan lain. Dari semua kasus, bisa aku simpulkan bahwa wanita cenderung takut dan cemas akan hal-hal yang menurutku belum tentu terjadi seperti: suami meninggal duluan, suami selingkuh, suami bersenang-senang sendiri dengan uang yang dia peroleh, uang yang dimiliki tak cukup, dan segenap pikiran-pikiran yang lebih mengarah kepada prasangka yang nggak-nggak. Dan untuk mengurangi resiko terjadinya hal-hal diatas, mereka cenderung untuk menginginkan bekerja secara mandiri dan atau menuntut hak pengelolaan atas pemasukan yang diperoleh oleh suami. Benarkah demikian? I don't know lah. Aku bukan wanita, dan terlebih lagi belum menikah pula.

Yang menarik lagi ada salah satu kerabatku *laki-laki tentunya* yang sudah menikah dan bercerita padaku bahwa semua harta benda yang dia miliki atas nama istrinya. Agak-agak kaget juga mendengarnya. Pertanyaan selanjutnya: Apakah ini merupakan cara yang bijak dan tidak berlebihan? Ataukah memang kerabatku sangat sangat murah hati dan sangat mencintai istrinya atau memang karakter istri cenderung lebih 'menguasai'? Cerita selanjutnya dari kerabatku ini yang menurutku bisa menjadi jawaban atas pertanyaan-pertanyaanku sebelumnya adalah: "Karena wanita membutuhkan rasa aman". 

Jawaban yang sangat masuk akal dan bisa menjawab seluruh pertanyaan-pertanyaan yang ada. Hmm.. anggap saja ini adalah jawaban yang benar dan menjadi kesimpulan dari semua hal diatas. Maka itu berarti wanita bukan bermaksud untuk menguasai, tetapi lebih didorong oleh kebutuhan akan rasa aman. Dari sisi suami, bukan berarti suami kurang berkuasa atau terlalu mudah diatur oleh istrinya, tetapi mungkin sebagai wujud kasih sayang dan kepercayaan yang diberikan kepada istri sehingga bisa memberikan rasa aman. Nah, nyambung kan dengan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya? Jadi, suami mengalah dan mengorbankan kepentingan pribadinya untuk kepentingan istrinya: yang kesimpulannya menurutku adalah adalah suami yang seperti ini tentu sangat menyayangi istrinya. Asal jangan sampai disalahgunakan aja tuh kepercayaan yang didapat. Terkait dengan wanita yang ingin tetap bekerja, tentu berhubungan dengan jawaban diatas. Bekerja agar mereka merasa aman dari sisi finansial. 

Pertanyaan berikutnya adalah: Apakah kondisi ini memang sudah ideal? Apakah suami tidak terlalu memanjakan istrinya jika seperti ini? Apakah memang tidak ada jalan lain untuk mengelola keuangan secara lebih fair, mengingat suami juga memiliki hak atas pemasukan yang dia peroleh, selama menurutku hak untuk keluarga telah diberikan secara fair. Mungkin memang kecenderungannya seperti ini, dimana memang wanita itu adalah sebaik-baiknya perhiasan bagi kaum pria. Efeknya adalah: laki-laki sangat mudah sekali terpengaruh oleh wanita, dan bahkan bisa hancur hidupnya karena urusan ini *sudah banyak kasus seperti ini*. Bahkan dalam sebuah hadis disebutkan bahwa wanita adalah fitnah terbesar untuk kaum pria. 

Wanita memang membutuhkan rasa aman, that's why dalam urusan pernikahan wanita cenderung membutuhkan kepastian dan menikah sesegera mungkin, sementara dari sudut pandang laki-laki, cenderung berpikir lebih dulu karena pernikahan berarti komitmen, dan artinya banyak hal-hal yang tadinya bebas dilakukan menjadi tak bebas dilakukan. Benarkah demikian? Well.. kayaknya butuh masukan dan opini dari sudut pandang perempuan nih. Terutama yang sudah menikah.

6 komentar:

  1. Well, I'm not married yet but I think I'd like to share my opinion on this topic. Yup, I agree that women needs (the feelings) to be secured. Why, mungkin karena secara fisik wanita tidaklah sekuat pria dan biasanya semenjak kecil wanita memang terbiasa untuk dilindungi. Sehingga ketika dia sudah beranjak dewasa pun dia tidak bisa melepaskan karakter tersebut (in most women of course). Tentang emansipasi atau gerakan feminisme yg selama ini mungkin disalahartikan oleh sebagian besar wanita, tentaunya tidak lepas dari alasan tersebut. Intinya sih, yah, mereka merasa kaum adam kurang bisa mengakomodir keinginan dan kebutuhan mereka terhadap sesuatu. So they need to gain further control in wider aspects of life. Which, I think what's need to be concerned is (again) communication between the 2 gender. Men and women has differences in habbit (perhaps u already figured it out from Mars and Venus) and the real challenges lies in communication.

    About financial-thing that u've been mentioned, from my perspective as a working women, I think all of it will go back to the deal that they've been made earlier. U wrote about husbands who's complaining bout the acc from their wives, why don't u ask them first bout their commitment from the very first. Why they agree about it from the very beginning? I see it as a matter of inconsistency. Did their wive force them? Even if their wive force it, why he didn't refuse on something yang akan merugikannya di kemudian hari? Luckily for my husband (whoever that man will be), I'm not a person who'd like to control everything. Although I'm a dominant person. It because, I think 2 head is better than 1. Plus the responsibility also can be shared.

    Next, about loosing the freedom. It depends on how you see the problem. Marriage brings lot of responsible, but it also brings you things that you didn't get when you're still alone. You feel completed as a person, but you're still living in the same world. So don't see marriage as a gateway from all your problem nor a new entrance of bunch different/complicated problem. IMHO,it simply is, a milestone in your journey of life ^-^

    BalasHapus
  2. I'm agree with you. Jika perempuan terbiasa untuk dilindungi, maka laki-laki juga terbiasa untuk melindungi. From this article, I didn't mean to blame women. I just want to share my opinion and I want second opinion from opposite gender.

    Suppose that what you called this financial-thing have been made earlier. Both of husband and his wife are agree that he has all freedom to spend his money without her permission (of course the husband has spare his money to fulfill his wife's rights). So what will you say if his wife break the commitment? Sometimes, the husband would refuse his wife's request. But of course it's not always a solution to solve the problem. In marriage, there's a commitment. But of course selain komitmen diatas, tentu saja ada komitmen untuk menjaga hubungan dan tali pernikahan diantara keduanya.

    Kalo dari pendapatku sendiri sih, laki-laki yang baik harus bisa tegas. All about this financial-thing is not directly related to the commitment made earlier menurutku. Tapi ke arah gimana caranya agar suami bisa tegas dan istri juga nggak seenak jidatnya sendiri. Apalagi dalam kasus yang aku tulis istri si suaminya nggak bekerja. Sebagai suami yang baik dan memang sayang dengan istrinya sendiri, secara tak sadar pasti nggak tega juga untuk menikmati hasil jerih payahnya sendirian. Jadi kalo mau ngeluarin duit yang buat kepentingan individu, pasti mendiskusikannya terlebih dulu. Kalo istrinya ngerti, harusnya yang beginian kan nggak perlu ijinnya dia, lha yang punya duit adalah suaminya kok. Yang parahnya itu adalah jika keuangan sudah dikontrol sepenuhnya oleh istri. Ini nih yang mulai nggak bener. Talk about commitment, harusnya kan keduanya saling percaya. Kalo istri mengontrol secara penuh, artinya kan suaminya memang nggak bisa ngatur keuangan atau memang si istrinya sendiri yang nggak pernah mau percaya ama suaminya.

    For the last paragraph from your comment, I'm totally agree. It seems both of you and I have same point of view regarding to marriage. I see marriage as a milestone. It's something that everyone should be able to pass it through.

    BalasHapus
  3. Hai Ekoo..

    Hm.. Melihat artikelmu.. Untukmu, Seems yang menjadi inti dari permasalahan kenapa istri hampir selalu memegang keuangan rumah tangga itu krn kebutuhan akan rasa aman.. Mungkin pernyataan itu tidak salah, tetapi kurang tepat juga. Karena dalam kacamataku *as a woman*, ada kecenderungan akan beberapa hal *globally* :
    - Wanita memiliki kapasitas yang sedikit lebih baik dalam mengelola/memanage keuangan
    - Wanita lebih detail dalam urusan rumah tangga
    - Laki2 jarang ada yang mau dipusingkan dengan urusan2 kecil

    Dan please stop thinking wife and husband sebagai dua hal yang totally terpisah, karena pada kenyataannya urusan rumah tangga itu selalu beririsan antara suami dan istri bukan? Tidak jarang juga harta benda itu dibeli atau dibuat atas nama suami.. Menurutku, ini masalah kesepakatan bersama, bukan karena istri yang seolah2 punya rasa ingin menguasai harta suami. Jika memang ada harta yang seluruhnya atas nama istri, itu juga kan seharusnya sudah menjadi kesepakatan bersama. Kalo memang harta bersama dipandang sesempit itu (dipilah2 antara harta suami dan istri secara saklek), sepertinya akan tidak jarang muncul masalah diantara suami istri, karena harta kan urusan yang sangat sensitif.

    Perasaan aman.. yup.. perempuan memang menginginkan rasa aman.. Ketakutan yang dirasakan istri atas suami pada dasarnya kan merupakan bentuk rasa cinta. Kalo ngga takut kehilangan, brati rasa sayang istri perlu dipertanyakan.. Tantangan terbesar buat pasangan suami istri kan untuk mengelola emosi supaya bisa saling mengisi, supaya setiap hal yang dialami mereka akan mendekatkan dan menambah rasa sayang diantara keduanya, bukan malah menjauhkan. Kecurigaan2 yang dirasakan perempuan biasanya dipengaruhi akan apa yang sering didengar, ditonton.. Lagi2, qt harus pintar2 untuk mengelola rasa kecurigaan ini. Kenyataannya curiga yang didominasi oleh mindset yang negatif tidak jarang malah membuat apa yang dicurigai menjadi kenyataan. Naudzubillahi min dzalik.

    Kalo perkara wanita bekerja, hm.. tidak sedikit suami yang melarang istri bekerja, tp tidak sedikit jg suami yang mendorong istri untuk bekerja dengan certain kinds of reason. Mem-backup finansial keluarga, sarana sosialisasi, sarana aktualisasi diri.. Semua tergantung niat masing2 ko.. jangan digeneralisir :)
    Saya pribadi ya.. hm.. bekerja tujuannya yaaa semua itu.. Belajar untuk sedikit menekan keinginan untuk berkarir tetapi ingin tetap berprestasi, setidaknya untuk diriku sendiri dengan berusaha melakukan yang terbaik yang kita bisa.

    Hampir senada dengan komen sebelumnya, pernikahan kuyakini hal yang seharusnya menjadi ladang untuk berbenah bersama, secara duniawi, surgawi, lahiriah, batiniah, fisik dan raga.. Suami dan istri seharusnya menjadi satu tim.. Istri menghormati suami dan suami menyayangi istri.. That wouldn't be simple things, tapi qt g boleh berhenti mencoba..

    BalasHapus
  4. Baca komenmu aku jadi pengen ngomentarin beberapa paragraf terakhir yang tampaknya tak terlalu berhubungan dengan topik utamanya. Untuk paragraf kedua terakhir kayaknya nggak perlu dibahas lagi :P. Pengalaman dulu mendebatkan masalah ini nggak ada ujungnya.

    Kembali ke komentarmu. Aku setuju dengan 3 alasan mengapa perempuan cenderung memegang urusan keuangan rumah tangga. Dalam berbagai artikel aku memahami bahwa prioritas perempuan dalam mengelola keuangan biasanya untuk keluarganya, sementara laki-laki lebih cenderung membelanjakan untuk kepentingannya sendiri. Jadi disini ada kecenderungan perempuan lebih ahli dalam memanage keuangan.

    Tetapi untuk urusan harta, seperti yang kamu bilang adalah urusan yang sensitif. Dalam pemahaman agamaku sendiri setahuku harta milik suami ya milik suami, milik istri ya milik istri. Nggak ada namanya harta suami adalah harta istri. Karena agar semuanya menjadi jelas ketika misalnya nanti terjadi perceraian. Walaupun demikian, kewajiban suami adalah menafkahi keluarganya. Arti menafkahi ini sendiri kan bukan berarti menyerahkan sepenuhnya pendapatan yang diperoleh suami ke istrinya. Jadi memang pada dasarnya mesti dipilah-pilah. Istri memiliki hak dari harta yang dimiliki suami, tapi kan nggak disebutin semuanya. Kalo nggak dipilah-pilah seperti ini, justru menurutku kedepannya yang bakalan ribet. Kebanyakan alesannya kenapa pengen dianggap harta bersama adalah karena si istri menginginkan rasa aman itu tadi. Benar begitu khan?

    Aku juga setuju dengan penyataan bahwa ketakutan yang dirasakan oleh istrinya sendiri itu adalah bentuk rasa cinta. Oke.. itu dari sudut pandang perempuannya sendiri kan. Kalo dari sudut pandang laki-laki, kan mikirnya jadi: "Istriku sebenernya percaya nggak sih ama aku?" Kan bisa aku balikin seperti itu. Jika memang istri merasa takut (yang disini menunjukkan rasa cintanya pada suami) apakah lantas dengan memegang kendali keuangan keluarga pikirannya menjadi lebih tenang? Keduanya seolah menjadi tak berhubungan menurutku.

    Asumsikan suami adalah laki-laki yang baik dan tak pernah macem-macem lah dalam mengeluarkan uangnya. Jika kondisinya seperti ini, masihkah si istri bisa mempercayai suaminya dalam hal pengeluaran? Jadi malah banyak nanya lagi nih :P

    Sebenarnya, yang ingin aku tekankan disini adalah, dari sudut pandangku, aku sendiri nggak keberatan kok jika urusan finansial dipegang oleh istri (based on 3 alasanmu tadi), tetapi itu bukan menjadi alasan untuk melarang-larang suami jika dia ingin membeli sesuatu selama semua kewajibannya sebagai seorang suami telah terpenuhi. Kurasa suami juga memiliki kebebasan yang sama untuk membelanjakan uangnya, apalagi jika uang itu berasal dari jerih payahnya sendiri.

    BalasHapus
  5. Lagi2..
    Menurutku semuanya kembali lagi ke pribadi masing2 ko. Masalah kenapa harta kebanyakan dikelola oleh istri menurutku bukan sepenuhnya karena istri menuntut rasa aman dalam bentuk seperti itu. Ada kewajiban suami untuk menafkahi, lahir dan batin. Perkara seberapa besar dan bagaimana bentuk nafkah itu kan setiap orang berbeda2 penafsirannya. Mungkin ada suami yg berfikir bahwa semua apa yang bisa diberikan suami untuk istri adalah bentuk nafkah. Ingat, istri pun punya kewajiban untuk menjaga amanah harta suami ataupun harta bersama.

    Bukan tidak percaya bahwa suami tidak bisa menggunakan keuangan dengan bijak, tp mungkin lebih baik menyerahkan urusan pada ahlinya.. Asalkan sang istri memang bukan orang yang mudah menghamburkan2 uang dan amanah suami.

    Mungkin kebanyakan istri bukannya melarang untuk beli ini itu. Siapa sih istri yang gamau suami bahagia (dalam konteks positif) dengan memiliki barang yang dia sukai. Jangan lupa ko, uang itu terbatas dan keinginan manusia tidaklah terbatas.. Untuk itu istri bisa berperan sebagai kontrol untuk keuangan rumah tangga dan memberi 'second opinion' tentang pengeluaran tertentu. Biar kebutuhan dapat dipenuhi sesuai prinsip 'First Thing First'.. As priority..

    Wallahu alam..
    :)

    BalasHapus
  6. Yup, semuanya memang kembali ke masing-masing individu. Jika menelaah lebih jauh, kayaknya komentar-komentarnya sudah jauh menyimpang jadi judul utama artikelnya nih.

    Yang menjadi perhatianku adalah aku masalah mengenai hal ini begitu tak asing terdengar dalam lingkungan sehari-hari, seolah sudah menjadi fenomena umum. Makanya aku mencoba menggali opini dari sisi perempuan.

    Aku nggak bermaksud untuk nge-blame atau nggak percaya sama perempuan, tetapi kenapa kok kenyataannya seperti itu. Dengan urusan uang dan harta terkadang menjadi begitu sensitifnya.

    Walaupun ini semuanya kembali ke orangnya masing-masing, pertanyaannya adalah bagaimana kondisi ideal sebenarnya? Yang tentunya kondisi ideal ini tidak dinilai secara subyektif tapi ada dasar yang jelas, seperti misalnya bagaimana jika masalah ini dipandang dari segi agama. Kurasa komitmen ataupun sejenisnya jika tidak didasari pada aturan yang jelas, ujung-ujungnya jadi berat sebelah dan terkesan memaksa. Ketika semua perselisihan terjadi, semuanya kan harus dikembalikan ke sumber hukumnya dimana kedua sumber hukum ini telah disepakati oleh pasangan tersebut. Ini nih yang sebenarnya mau aku angkat.

    Aku pengen tahu aja masukan-masukan dari orang lain seperti apa. Paling nggak kan sekarang menjadi lebih jelas pendapat dari sisi perempuan gimana dan aku bisa mengambil kesimpulan berdasarkan opini-opini ini.

    BalasHapus