Sabtu, Juni 13, 2015

Gowes ke Curug Barong - Sentul

Sentul belakangan ini menjadi lokasi favoritku untuk bergowes ria. Selain karena udaranya yang sejuk, di area ini masih ada beberapa track gowes yang masih bisa di-explore. Setelah Gunung Pancar dan Km 0, pada acara gowes kali ini aku sempatkan untuk bersepeda ke Curug Barong.

Pada awalnya, tidak ada niatan ke Curug Barong. Rencanaku hari itu adalah bergowes ria ke Gunung Pancar. Ceritanya sih masih penasaran sama Nasi uduk di warung depan Sebex, karena di kesempatan gowes ke Gunung Pancar sebelumnya, warungnya belum buka :(. Sehari sebelumnya beberapa rekan gowesku kebetulan sudah bergowes ria ke Curug Barong, dan tadinya sih aku mau ikut. Hanya saja karena ada acara mendadak, aku batalkan dan jadilah aku gowes sendirian keesokan harinya. Berbekal pengalaman rekan-rekanku ke Curug Barong, aku putuskan untuk pergi kesana.


Rute ke Curug Barong pada dasarnya sih sama dengan rute ke Gunung Pancar yang aku lalui sebelumnya. Namun kira-kira pada km ke 11 ada pertigaan. Ke kanan akan menuju ke Gunung Pancar, sementara jika mengambil jalur lurus, akan menuju ke Curug Barong. Jalurnya pun sedikit lebih bagus, jalanan aspal yang lumayan mulus. Namun soal tanjakan menurutku lebih berat dibandingkan dengan rute ke Gunung Pancar. Tanjakan yang paling menyiksa adalah tanjakan setelah melalui jembatan yang sedang 'direnovasi' seperti tampak pada gambar dibawah.


Selain cukup curam, tanjakannya pun lumayan panjang. Lagi-lagi modal dengkul dan paru-paru sangat diperlukan disini. Terlebih lagi dari Sentul hingga 11 mm pertama, didominasi oleh tanjakan beruntun. Jika tidak beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga, niscaya di tanjakan ini bisa KO. Dahsyatnya lagi, sebelum melalui tanjakan curam ini, para goweser akan melalui turunan yang cukup tajam. Nah dasar turunannya ini adalah jembatan diatas. Cakep kan, disini lah point of no return. Balik lagi udah jelas males menghadapi tanjakan, sementara di depan tanjakan yang cukup curam telah menunggu.

Dari tanjakan ini hingga ke lokasi Curug Barong kurang lebih sekitar 4 km lagi. Jalanan aspal yang tadinya mulus, berubah sedikit demi sedikit menjadi jalanan aspal yang rusak. Dan yang aku benci adalah rutenya campur-campur antara tanjakan dan turunan. Bukan benci tanjakannya loh ya, justru turunannya, karena ini akan menjadi PR ketika pulang nanti.

Setelah bergowes ria sejauh kurang lebih 2 km, sampailah pada pintu masuk ke Curug Barong. Tadinya kupiikir lokasinya di pinggir jalan, ternyata ada pertigaan dan nanti masuk lagi ke dalam. Setelah bertanya ke warung di dekat situ, ternyata sepeda bisa masuk ke dalam hingga Curug Barong, sementara mobil dan sepeda motor mesti parkir di lokasi yang sudah disediakan.
Pintu masuk ke Curug Barong
Berhubung sudah jauh-jauh bergowes, sepertinya sih rugi yah kalau nggak masuk. Paling nggak ada foto-foto sebagai barang bukti lah. Sekitar 1 km dari pinggir jalan, sampai lah ke pintu masuk lokasi wisata ini. Untuk memasuki kawasan ini, per orang akan dikenakan biaya Rp 10.000, namun sepertinya karena aku membawa sepeda, tarifnya menjadi Rp 15.000.

Sebenarnya di lokasi wisata ini tidak hanya Curug Barong saja, tetapi ada juga Leuwi Hejo. Leuwi Hejo lokasinya berjarak 500m dari pintu masuk, dan disana disediakan tempat parkir sepeda motor. Karena awalnya aku hanya tertarik untuk ke Curug Barong, aku tidak mampir ke Leuwi Hejo. Selain itu, Leuwi itu berarti bagian sungai yang cukup dalam, dan artinya aku mesti berenang dong untuk bisa menikmati tempat wisatanya. Sementara Curug berarti air terjun, bisa maen-maen air aja tanpa perlu berenang.

Ternyata Curug Barong ini tidak bisa dilalui jalur sepeda, mesti berjalan kaki lagi sejauh 500m dari lokasi parkir Leuwi Hejo. Tantangannya adalah selain jalanan setapak, jalanannya pun menanjak cukup curam. Jadilah sepeda nya perlu digotong keatas. Beruntung sepedaku berbahan karbon. Dengan berat kurang lebih 10kg, masih bisa lah aku panggul menyusuri jalanan setapak hingga sampai ke Curug Barong. Kebayang aja kalau bawa sepeda full-suspension kesini. Memanggulnya saja sudah menjadi PR, belum lagi kemungkinan cedera bahu karena overload :p.

 
Jalanan setapak yang tidak bisa dilalui sepeda


Ketika aku sampai Curug Barong, jam menunjukkan pukul 8 pagi. Disana baru ada 4 orang, dan lokasinya menurutku lumayan sepi. Setelah puas berfoto-foto (nggak ada foto selfie yah), aku segera meninggalkan curug. Di sepanjang perjalanan menuntun sepeda, aku berpapasan dengan rombongan yang hendak menuju curug. Sepertinya sih semakin siang akan semakin ramai nih.

 
Curug Barong

Keluar dari pertigaan ke Curug Barong sekitar jam 9 an. Sehari sebelumnya rekan-rekan gowesku tidak masuk ke lokasi curug dan mengambil rute ke arah Citeureup. Karena aku targetkan bisa pulang ke rumah sekitar jam 11 an, rute pulang ke Sentul yang aku ambil adalah rute yang sama dengan ketika berangkat. Lumayan juga, rute pulang ini didominasi oleh turunan, walaupun ada beberapa tanjakan yang lumayan berat terlebih lagi setelah tenaga cukup terkuras di perjalanan berangkat tadi. Tantangan terberat tentunya tanjalan setelah jembatan tadi. Padahal sih nggak curam-curam amat, cuma mungkin karena energi udah lowbat kali yah, jadi rasa-rasanya melewati 1 tanjakan saja butuh energi yang banyak.

Perjalanan pulang hanya memakan waktu 45 menit, berbanding 2 jam an untuk perjalanan berangkatnya. Sesampainya di lokasi parkiran mobil, tanpa basa-basi aku segera memberesi sepedaku dan segera caw dari sana. Alhamdulillah, tolnya lancar dan belum macet. Perjalanan pulang dari Sentul sampai rumah bisa aku tempuh dalam waktu 1 jam 15 menit.

Catatan:

  • Rute dari Plaza Niaga 1 Sentul ke Curug Barong bisa dilihat disini
  • Berdasarkan informasi dari GPS, ketinggian maksimum melalui rute ini adalah 514 mdpl.

2 komentar:

  1. wow..tempatnya lumayan juga kelihatannya..boleh dicoba nih kesana :D

    BalasHapus