Minggu, Maret 13, 2016

1000 km Pertama dengan Road Bike

Tak terasa sudah 2 bulan lebih sejak aku memiliki road bike Pertamaku: Polygon Helios A8. Dan kini berdasarkan catatanku di Strava , kilometernya sudah melewati 1000km. Sejak kubeli, bisa dibilang sepeda ini menjadi sepeda utamaku, menggantikan MTB yang sudah kumiliki sebelumnya. Namun demikian, bukan berarti aku beralih ke aliran road bike. Karena memang belakangan ini sudah memasuki musim hujan, sehingga trek favoritku di dekat rumah kurang nyaman untuk dilibas dengan MTB. Pilihan gowes ku menjadi terbatas pada jalanan aspal, yang tentunya akan lebih nyaman jika dilibas dengan Helios.


Ekspektasi awalku, dengan Road Bike kecepatan yang akan kudapatkan akan meningkat cukup signifikan jika dibandingkan dengan Mountain Bike ku sebelumnya. Selain itu, terkait penggunaan sepeda seperti shifter dan posisi duduk ketika bersepeda tidak akan terlalu jauh dengan MTB. Ternyata ini semua sedikit jauh dari ekspektasiku. Bahkan di awal-awal pemakaian aku sempat frustasi karena di mindset mu, road bike seharusnya lebih enteng untuk digowes jika dibandingkan dengan MTB. Kenyataannya adalah gowes dengan road bike lebih berat yang baru aku sadari dari perbedaan jumlah gigi pada crankset nya yang terpaut cukup signifikan.

Aku akan mencoba mengulas satu persatu poin-poin yang menurutku perlu diperhatikan dalam menggunakan road bike:

Ritme
Gowes dengan MTB, aku sudah cukup terbiasa dengan manuver dan kombinasinya dengan tanjakan/turunan. Reflex sangat dibutuhkan agar gigi belakang bisa dengan cepat disesuaikan dengan medan yang dilalui. Berpindah-pindah gigi naik dan turun berulang kali sudah menjadi lumrah dalam penggunaan MTB.

Sementara itu pada road bike, penggunaannya tidak seperti itu. Dengan jalanan aspal mulus sebagai kondisi ideal, road bike tidak didesain untuk bermanuver dalam kecepatan. Idealnya, pengguna road bike memiliki kecepatan yang stabil. Oleh karena itulah perbedaan gigi pada gir belakangnya relatif sempit. RD dengan 10 speed pada RB salah satu variasinya adalah 11-25t, sementara pada MTB 11-36t. Dengan perbedaan ini, perpindahan gigi akan dirasa lebih mulus dan smooth dibandingkan dengan MTB.

Intinya sih dalam menggunakan road bike, aku diharapkan dapat memiliki kecepatan yang stabil untuk jangka waktu yang lama. Tidak seperti MTB yang pergerakan kecepatannya dinamis.

Medan Tanjakan
Dulu aku berpikir melibas tanjakan menggunakan road bike akan jauh lebih mudah dibandingkan dengan MTB. Jawabannya adalah tidak selamanya benar. Bahkan di kondisi tertentu, gowes dengan menggunakan MTB akan terasa lebih ringan dibandingkan dengan road bike.

Begini lah penjelasannya. Road bike dengan gir belakang 10speed pada umumnya memiliki rentang jumlah gigi 11-25. Gir paling besar memiliki 25 gigi. Sementara pada MTB jumlah gigi pada gir paling besar untuk 10speed biasanya 36. Perbedaannya cukup signifikan bukan? Terbayang di tanjakan yang biasanya kita menggunakan gir besar sekarang harus menggunakan gir yang lebih kecil. Tentu kayuhannya lebih berat dan memerlulan power yang lebih besar.

Eit.. belum selesai ceritanya. Ini baru gir belakang. Gir depan lebih dahsyat lagi. Crankset pada road bike dengan 2speed biasanya memiliki kombinasi 34/50T, 36/52T, dan 39/53T. Kebetulan crank yang aku gunakan adalah 39/53T. Bandingkan dengan MTB yang ada di pasaran sekarang dengan 2 kombinasi speed. Kombinasi yang ada biasanya 24/34T, 26/36T, 28/38T, dan sebagainya. Sementara MTB yang kugunakan sedikit berbeda 30/42T. Jika dibandingkan dengan road bike, gir depan yang ringan memiliki 39 gigi sementara pada MTB gir beratnya memiliki 42 gigi, tidak terlalu jauh memang. Ini artinya gir ringan di road bike sedikit dibawahnya gir berat pada MTB.

Dikombinasikan dengan gir belakang, maka melibas tanjakan dengan road bike itu bisa dianalogikan dengan menggunakan gir berat baik depan dan belakang di MTB. Perbedaannya mungkin tidak akan sedrastis ini karena road bike memiliki keunggulan bobot sepeda yang lebih ringan dan gesekan pada ban yang lebih minim dibandingkan dengan MTB.

Setelah aku baca-baca lebih lanjut, memang untuk melibas jalanan berbukit yang dipenuhi dengan tanjakan dan turunan curam, tidak disarankan menggunakan crank dengan kombinasi 39/53T (standard crank). Disarankan untuk menggunakan crank dengan kombinasi 34/50T (compact crank), dimana lebih enteng untuk melibas tanjakan. Standard crank didesain untuk keperluan balapan dimana treknya cenderung rata dan tidak berbukit.

Manuver
Walaupun road bike didesain untuk melibas jalanan aspal, bukan berarti kita bisa seenaknya melakukan manuver-manuver di jalanan menghindari sepeda motor yang tiba-tiba muncul dari belokan maupun kendaraan yang tiba-tiba berhenti. Road biketidak selincah MTB, dan menurutku didesain untuk kecepatan tinggi dan stabil di jalanan yang cenderung lurus.

Berdasarkan pengalamanku, beberapa kali aku mencoba untuk melakukan manuver seperti misalnya menghindari kendaraan di jalanan, hasilnya kurang baik. Nyaris terserempet atau nyaris nabrak menjadi lumrah. Selain itu aku baru menyadari ‘ground clearance’ untuk road bike ini lumayan rendah. Jarak dari pedal ke groundnya lebih rendah dibandingkan dengan MTB. Jika sepeda dipaksa membelok dengan cukup tajam dan posisi kaki di pedal salah, bisa dipastikan pedal akan membentur jalanan. Beberapa kali pedalku aku membentur aspal karena melakukan manuver cukup tajam.

Hindari jalanan yang tidak rata
Terbiasa menggunakan MTB, medan yang tidak rata seperti polisi tidur ataupun lubang di jalan tidak terlalu bermasalah untuk dilibas. Dengan road bike, sebaiknya jangan deh. Polisi tidur yang tidak terlalu tajam, masih oke lah dilibas dengan kecepatan tinggi. Namun, lubang di jalan bisa lumayan menyakitkan jika tanpa sengaja kita libas. Dengan desain fork tanpa suspensi, getaran akan langsung terasa ke pergelangan tangan, dan sakitnya lumayan lho. Untuk beberapa case, rasa sakitnya bisa bertahan beberapa lama.

Namun, diantara itu semua, musuh terbesar road bike adalah speed trapper, semacam polisi tidur yang tidak terlalu tinggi namun dipasang berurutan. Selain sangat-sangat tidak nyaman ketika melalui medan ini, terutama jika posisi tangan berada di bagian bawah handle bar, bukan di bagian atasnya, speed trapper ini sangat mengurangi momentum kecepatan yang sudah kita bangun.

Hati hati ketika hujan
Road bike yang kumiliki, seperti kebanyakan sepeda balap lainnya tidak memiliki rem cakram. Daya pengeremannya ketika hujan tidak sebaik rem cakram. Selain itu, dengan ban yang lebih kecil dan mulus, membuatnya licin. Kombinasi kedua hal ini perlu diwaspadai ketika hujan cukup deras. Melakukan pengereman terlalu kencang bisa membuat ban belakang selip dan bisa membahayakan. Ketika hujan deras, sebaiknya jangan bersepeda di jalanan yang ramai yang memerlukan banyak pengereman.

Ekspektasi kecepatan
Ketika menggunakan MTB, mencapai kecepatan 25km/jam tidak terlalu sulit. Mencapai kecepatan 30km/jam dalam jalanan aspal yang mulus juga masih memungkinkan walaupun dengan usaha yang lebih berat. Namun demikian mempertahankan kecepatan 30km/jam selama 1 jam lain lagi ceritanya. Rekorku dengan sepeda MTB adalah 28km yang kutempuh dalam waktu 1 jam. Dengan kemampuanku ini, kupikir dengan menggunakan road bike kecepatanku akan naik secara signifikan. Haha.. Ternyata nggak juga.

Kecepatan 28km/jam dapat dicapai dengan usaha yang minimal dengan Helios ku. Begitu sudah melewati anggak 30km/jam, rasa-rasanya semakin sulit untuk meningkatkan kecepatan walaupun energi yang dikeluarkan besar. Sprint menggunakan road bike menurutku memerlukan energi yang lebih besar. Ukuran gir pada crankset ternyata sangat berpengaruh. Pada gir besar, energi per kayuhan yang diperlukan juga lebih besar, dan sepertinya otot kakiku belum cukup terlatih untuk terbiasa pada gir besar.

Selain itu, aku baru memahami bahwa semakin tinggi kecepatan yang ingin dicapai, pengaruh angin atau udara dia sekitar pun semakin besar, seolah menahanku untuk menambah kecepatan. Oleh karena itu, gowes dengan road bike sangat disarankan untuk menggunakan baju/jersey yang ketat untuk mengurangi gesekan dengan udara. Berdasarkan pengalamanku, posisi duduk juga berpengaruh. Semakin menunduk, posisi bersepeda akan menjadi semakin aerodinamis, sehingga menjadi lebih mudah untuk mencapai kecepatan yang lebih tinggi.

Bike Fit
Pengaturan pada road bike menurutku sedikit lebih ribet dibandingkan dengan MTB. Ketika menggunakan MTB, karena kecepatan bukan faktor utama, tanpa perlu settingan yang ribet, sepeda sudah bisa langsung digunakan.

Sementara pada road bike perlu dilakukan pengaturan ekstra. Posisi bersepeda dengan road bike tentunya berbeda dengan MTB, dimana posisi badan cenderung membungkuk ke depan. Tidak seperti MTB dimana posisi badan bisa lebih tegak. Dengan posisi seperti ini, jika sepeda tidak diatur dengan benar, bisa menyebabkan aktivitas bersepeda menjadi tidak nyaman dan bahkan bisa menyebabkan cedera dalam jangka waktu yang panjang. Posisi yang kurang tepat juga dapat menyebabkan kayuhan menjadi tidak optimal.

Perawatan Ekstra
Road bike di desain untuk digunakan untuk jarak yang relatif lebih jauh untuk sekali aktivitas jika dibandingkan dengan MTB. Sehingga perawatan yang perlu dilakukan pun menjadi lebih sering. Sering-sering lah melakukan pengecekan dan pembersihan pada rantai, sprocket, dan cranksetnya. Karena bagian ini adalah bagian yang paling mudah kotor semakin jauh kita bersepeda. Rantai yang kotor tentunya akan mempengaruhi performa dalam bersepeda.

Yang aku suka adalah, membersihkan/mencuci road bike lebih mudah dibandingkan dengan MTB. Pada MTB, kesulitan terbesar adalah mencuci ban yang dipenuhi lumpur yang sudah mengering. Sementara itu, pada road bike, karena ban nya lebih mulus dan medan yang dilalui adalah jalanan aspal, ban nya cenderung tidak terlalu kotor dan tidak perlu usaha ekstra untuk membersihkannya.

1 komentar:

  1. Thx utk infonya.. mampir yu ke http://elementmtb.com/modif-sepeda-dengan-bike-wheel-lights-buat-sepeda-kamu-tambah-gaul-2/

    BalasHapus