Senin, November 21, 2016

Selamat Datang di Dunia Introvert

Telah lama aku menyadari bahwa diriku adalah seorang introvert. Dari sejak dulu kala aku paling benci dengan keramaian dan bertemu dengan orang-orang baru. Sebaliknya, aku lebih senang menghabiskan waktuku sendirian: membaca buku/artikel, menulis, dan sekelumit aktivitas lainnya yang bisa memaksaku untuk fokus dan tidak perlu melibatkan kontak dengan orang lain. Kalaupun harus bertemu dengan orang lain, biasanya mereka adalah orang-orang yang sudah aku anggap dekat dan aku kenal dengan baik.


Introvert biasanya memiliki sikap tertutup, dan begitu pula denganku. Namun kali ini aku berniat untuk sedikit membuka diri walaupun hanya melalui tulisan di blog. Sejauh ini sih rasa-rasanya blog ku hanya berisi tulisan-tulisan yang 'netral', dan jarang sekali aku menulis sesuatu yang personal. Tulisan ini adalah awal komitmenku untuk lebih membuka diri. Komitmen yang sudah tertulis biasanya lebih mudah untuk dijalankan, dan nggak sekedar menjadi wacana. Membuka diri berarti membuka pertahananku yang paling rapuh. Namun mengingat penyumbang terbesar trafik blog ku adalah dari google, kurasa tidak akan banyak yang iseng-iseng untuk mampir kesini.

Entah ada berapa banyak populasi introvert di di luar sana, namun berdasarkan observasiku di lingkungan kantor, introvert menjadi minoritas jika dibandingkan dengan ekstrovert. Dan inilah tantangan terbesarnya, menjadi kaum minoritas dan berada di tengah-tengah komunitas yang mayoritas ekstrovert terkadang membuatku merasa berada di tempat yang salah. Seperti halnya kucing yang berada di dalam air. Sepandai-pandainya kucing tersebut berenang, tidak akan bisa mengalahkan ikan yang memang pada dasarnya sudah hidup di air.

Di satu sisi yang lain, kerapkali aku merasa kesulitan untuk berkembang. Karena ekspektasi dari lingkungan sekitarku menurutku lumayan tinggi. Aku dituntut untuk lebih aktif berbicara dan all out, sementara salah satu kelemahanku adalah mengkomunikasikan ide-ideku dengan cara yang baik dan efektif. Oke.. kekurangan ini mungkin masih bisa diperbaiki. Namun demikian, all out bukan menjadi opsiku jika hanya sekedar cuap-cuap saja. Aku bukan tipe orang yang spontan, berbicara dulu baru berpikir. Jadi aku baru akan berbicara setelah berpikir matang-matang akan konsekuensinya. Aku akan kesulitan dalam bereaksi ketika aku ditanya mengenai hal-hal yang belum aku pahami. Bahkan terkadang untuk hal-hal yang telah aku pahami pun, reaksiku seringkali kurang terstruktur.

Lingkungan pertemanan yang dimiliki oleh seorang introvert pun tidak terlalu besar. Pada umumnya mereka mementingkan kualitas dibandingkan dengan kuantitas. Jadi, alih-alih bersosialisasi dengan belasan orang, introvert mungkin hanya akan memiliki beberapa teman di ring 1 nya, dimana pada level tersebut mereka masih bisa merasa nyaman tanpa perlu khawatir energi mereka akan cepat habis. Seringkali introvert hanya akan 'terbuka' kepada teman-temannya yang berada ring 1 nya tadi, dan tertutup kepada teman-temannya yang berada diluar itu. Disinilah seringkali introvert dicap anti sosial dan kurang bisa nge-blend. Entahlah apakah aku di kantor sampai dicap seperti itu. Nggak banyak ngomong sih sudah pasti, tetapi kalau sampai nggak bisa nge-blend, ini yang aku belum ngerti.

Alkisah, sekretaris di kantorku dianggap kurang nge-blend. Memang sih dari pembawaannya, kurasa dia seorang introvert. Nggak banyak omong, dan kalau ngomong hanya seperlunya saja. Dari sudut pandangku sebagai seorang introvert, aku artikan sebagai efisien. Sementara dari seorang yang ekstrovert seolah dipersepsikan sebagai seorang yang pendiam. Nah.. suatu ketika dalam sebuah acara, dia dipaksa untuk all out. Aku mencoba memahami tekanan yang dia rasakan dari perspektif introvert. Pastilah keadaan waktu itu sangat tidak menyenangkan. Dan sesuai dengan dugaanku, memaksa introvert untuk all out adalah usaha yang menurutku percuma. Bagi seorang introvert, jika masih dimungkinkan untuk nggak perlu all out, maka opsi itu kemungkinan besar yang akan diambil.

Salah satu komentar yang aku dengar setelah kejadian itu kurang lebih seperti ini: "Padahal dia kalau sama si X dan Y kayaknya all out aja tuh". Yang aku pikirkan pada saat mendengar komentar itu adalah apakah mereka itu sedemikian sulitnya untuk memahami kami, kaum introvert dan berpikir seolah-olah tindakan yang kami lakukan itu tidak wajar. I just want to tell them that you can not fix what is not broken. We're not broken, we're just different.

Nah.. kondisi-kondisi seperti inilah yang membuatku merasa minder. Sejujurnya sih, aku tidak terlalu peduli dengan apa yang dikatakan oleh lingkunganku. Mau dibilang aku kurang bisa nge blend lah, kurang aktif dan all out lah, ya terserah aja sih selama aku masih bisa berkontribusi dengan caraku sendiri. Namun terkadang aku iri dengan kemampuan yang dimiliki oleh para ekstrovert itu terutama dalam menyampaikan ide-ide mereka. Ada satu titik, dimana perbedaan gap itu sudah terlalu jauh, dan kurasa seberapapun kerasnya aku mencoba, tetap tidak akan bisa menandingi mereka. Opsi yang kumiliki pun terbatas, antara berusaha untuk menjadi seperti mereka atau fokus di kekuatan yang aku miliki saat ini dan menyempurnakannya.

2 komentar:

  1. Dunia memang lebih memihak ekstrovert.
    Mulai Pendidikan menuntut introvert lebih aktif, soal sapa menyapa dll. Terkadang berpikir apakah bisa "sukses" di masa depan.

    BalasHapus