Sabtu, Februari 25, 2017

Jakarta Audax 2017

Pada tanggal 19 Februari lalu, aku berkesempatan untuk menjajal event Jakarta Audax yang biasanya digelar setiap tahun. Audax bukanlah event untuk balapan. Tantangannya adalah menyelesaikan jarak gowes yang lumayan jauh di rentang waktu tertentu. Biasanya, pada tahun-tahun sebelumnya jarak tempuh untuk event ini minimum 200km, namun pada tahun ini dibuka 2 kategori: 100km dan 200km.

Aku memilih kategori 100km karena tidak ingin terlalu capek dan biar cepet kelar. Sebenarnya sih tertarik juga untuk menjajal 200km, cuma berhubung sebelumnya belum pernah ikutan event nya, aku putuskan untuk mengikuti kategori 100km saja. Apalagi acaranya hari Minggu, kalau tepar kan ribet karena besoknya harus masuk kantor.


Terlebih lagi, sebelumnya rada-rada mikir juga kenapa untuk event yang unsupported seperti ini biaya pendaftarannya sampai Rp 350 ribu. Mengingat acara sebelumnya, Last Sunday Ride (LSR) yang digelar di akhir tahun 2016 lalu malah gratis. Untuk sebuah acara yang gratisan pun, bisa dibilang cukup “mewah”. Di tiap persimpangan jalan ada panitia yang memberi tahu jalurnya. Makanan dan minuman cukup berlimpah, dan ada door prize nya pula yang membuat acaranya ramai.

Sementara itu, untuk acara Audax 100km kemarin, menurutku tidak seramai dan se-mewah LSR. Mungkin karena LSR gratisan jadi yang berpartisipasi juga lumayan banyak. Namun demikian itu tidak menjawab kemana biaya registrasi sebesar Rp 275rb dialokasikan. Sepengetahuanku kemarin, tidak ada makanan atau minuman yang dibagikan, dan panitia hanya ada di lokasi checkpoint & finish saja. Aku mulai berpikir jangan-jangan dana hasil registrasinya digunakan sebagai subsidi silang dengan event LSR.

Jalannya Event
Acara dimulai cukup tepat waktu, sekitar 5:35 sudah start. Namun karena menunggu rekanku yang lain, baru jalan dari Cilandak Town Square sekitar jam 6. Ketika start, turun hujan lumayan deras. Dan bisa dibilang sih dari start sampai jam 9an, gowes hujan-hujanan. Dan karena start terlambat, sepanjang perjalanan tidak banyak menemui goweser lain.

Titik checkpoint satu-satunya untuk kategori 100km berlokasi di dekat Puspitek Serpong. Petunjuknya agak ngaco, karena diinformasikan ada di km52. Sementara berdasarkan GPS ku sih seharusnya sudah masuk km 56. Jadi agak-agak ragu ketika melewati km52, khawatir titik checkpoint nya terlewat. Akan lebih baik jika titik checkpoint ini juga disebutkan di peta. Jadi biar ada ancer-ancer dan nggak nyasar.

Finish sekitar jam 10:30 di Cilandak Town Square, setelah gowes agak ugal-ugalan sepanjang rute Parung. Di titik finish, agak kaget karena relatif sepi, baik dari goweser yang sudah sampai duluan, maupun dari event nya ini sendiri. Beda jauh deh kalau dibandingkan dengan LSR. Well.. karena ini adalah event pertamaku di Audax, jadi nggak bisa membandingkan dengan event-event Audax yang sudah diselenggarakan sebelumnya.

Kesimpulan
Aku akui, setelah menjajal event nya, secara jarak kategori 100km kurang menantang menurutku, terutama karena medannya cenderung flat. Untuk next event nya mungkin aku akan menjajal kategori 200km, dan mari kita lihat apakah ada perbedaan yang signifikan dengan kategori 100km, misalnya dari sisi makanan/minuman, dan medali. Jika tidak ada perbedaan yang signifikan, untuk next event nya better nge “bandit” saja. Nggak perlu daftar & bayar, tinggal mengikuti goweser yang lain, syukur-syukur bisa dapat info rutenya juga. Secara etika sepertinya agak-agak kurang gimana gitu. Namun demikian justifikasinya adalah karena event ini unsupported dan memang nggak ada perbedaan kompensasi antara goweser resmi dan goweser “bandit” kecuali masalah medali dan BRM, jadi ya legal-legal saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar